Please Wait...

Bonggol Jagung Pembawa Untung

By kriakreasi

Aug 04 2018

Kreasiku

SHARE THIS VIA:
Facebook

Twitter

Pinterest

Jagung bisa diolah untuk berbagai macam makanan.  Mulai dari jagung bakar, jagung rebus, bakwan jagung, dicampur ke sayuran bahkan bisa diolah menjadi minyak atau tepung. Namun tidak dengan bonggol jagung. Kebanyakan orang membuang bonggol jagung usai memakan atau memasak jagung.

Tetapi bagi Edie Juandi bonggol jagung bisa menjadi sumber penghasilan. Di tangan Edie, bonggol jagung yang dianggap limbah itu disulap menjadi beragam kerajinan yang cukup unik dan mahal harganya. Memang ini bukan tahun pertama Edie merintis usaha ini. Tidak cuma rupiah, Edie juga membuka peluang bagi masyarakat yang ingin kerajinan serupa. Usaha ini mulai dirintis tahun 2007 lalu.

“Alasannya di mana saja kapan saja dari mulai nenek sama anak-anak. Arti bonggol jagung itu limbah. Kedua, bagi pengusaha atau pelaku bahan bakunya gratis,” kata Edie.

Tentu saja tidak semua bonggol jagung dipakai untuk membuat kerajinan. Edie harus memilah bonggol jagung yang masih dalam kondisi baik dan tidak busuk.

Gampang mendapatkan bonggol jagung. Disetiap pasar ada. Dulu saya nongkrong di pasar. Kalau sekarang saya dikirim.  “Harus telaten. Karena organic itu hidup jadi jangan sampai terjadi pembusukan yang cepat,” kata Edie menjelaskan.

Awal mulanya Edie rajin nongkrong di pasar untuk mendapatkan bahan baku kerajinan tersebut. Sekarang Edie tidak perlu lagi menyambangi pasar tradisional untuk mendapatkan bahan dasar kerajinan.”Sudah ada yang mengantar,” kata dia.

Sekarang Edie tidak lagi memproduksi kerajinan bonggol jagung. Dia mengembangkan bisnisnya ini ke pemberdayaan masyarakat. “Ini yang disebut padat karya. Kerajinan bonggol jagung ini dai sabang sampai merauke ada,” ujar lelaki berambut gondrong ini.

Edie hanya membuat contoh produk dan kemudian disebar ke perajin bonggol jagung yang tersebar di banyak daerah. “Tenaga kerja yang saya pakai itu anak-anak jalanan,” ucapnya.

Kerajinan yang cantik ini dipasarkan ke seluruh Indonesia. Negara tetanggta yang memesan produk anak negeri ini aantara lain Malaysia, Singapura, Jepang, Amerika, dan beberapa negara di Eropa.  Namun  menurut Edie, dia tidak mengekspor kerajinannya ini. “Belum ekspor. Misal ada orang Jepang beli ke saya, terus dia bawa,” imbuhnya.

Sekarang tidak hanya lampu hias, Edie membuat berbagai macam kerajinan seperti tas, tempat makanan, pembatas ruang, dan pajangan rumah. Terakhir, dia mendapat pesanan yang bisa dibilang cukup unik, casing ipad dan cooler laptop. Menurut dia, konsumen sekarang tidak memasalahkan hargam yang penting mereka tambil beda. “Orang sekarang itu hedonis,” kata dia.

Menurut dia pengolahan bonggol jagung ini tidaklah sulit. “Susah atau tidak tergantung pada kita. Jadi kalau susah dan gampang itu tingkatannya relative,” imbuhnya.

Untuk harga jual, Edie memasang harga yang cukup tinggi untuk kerajinan yang bahan bakunya  mudah dan murah ini. “Idenya yang mahal. Kitakan jual ide,” kata Edie berkelakar. Dia mematok harga mulai dari Rp 100.000 sampai  Rp 4.000.000. Selain itu, menurut dia segala sesuatu yang mengandung organic lebih mahal ketimbang yang ada campuran bahan lain.

Hanya saja edie tidak mau menyebut angka pasti dari hasil usahanya tersebut. Dia hanya mengatakan saat ini lebih dari 100 item barang yang dia buat. “Sebulan itu bisa 40-50 karung beras bonggol jagung saya produksi,” kata dia.

Bonggol jagung tersebut tidak langsung dipakai begitu saja. Tentu ada proses pengolahan sebelum disulap. “Dikeringkan sekitar dua sampai tiga bulan. Kalau hujan pengeringan jadi lebih lama,” jelasnya. Edie juga merahasiakan bahan campuran untuk proses pengeringan tersebut  “Itukan ide, nanti kalau saya kasih tahu tidak ada yang ikut pelatihan ke saya, kita boleh transparan tapi tidak telanjangkan,” pungkasnya.

Post to Reply